Beranda / Aturan transliterasi

Aturan Transliterasi Raraken: Cara Mesin Kami Menulis Aksara Sunda

Halaman ini menjelaskan setiap aturan yang dipakai mesin transliterasi Raraken saat mengubah huruf Latin menjadi Aksara Sunda Baku, lengkap dengan contoh dan batasannya. Tujuannya supaya Anda bisa memeriksa sendiri setiap hasil, bukan sekadar mempercayainya.

Disusun oleh Andika Bayupati, pengelola Raraken.com · Diperbarui 22 Oktober 2026

1. Prinsip dasar: tulis yang diucapkan

Aksara Sunda adalah aksara abugida. Setiap huruf konsonan dasar (ngalagena) sudah membawa vokal /a/, dan bunyi lain ditandai dengan rarangkén. Karena itu mesin Raraken bekerja per suku kata, bukan per huruf Latin. Ketika ejaan Latin dan bunyinya berbeda, yang diikuti adalah bunyinya. Prinsip ini menjelaskan hampir semua aturan di bawah, termasuk cara kami menangani nama berejaan lama.

Mesin berjalan sepenuhnya di peramban Anda. Teks yang Anda ketik untuk ditulis dalam aksara tidak dikirim ke server mana pun. (Penerjemah bahasa Sunda ⇄ Indonesia di halaman Translate Sunda adalah alat terpisah yang memakai AI.)

2. Vokal dan rarangkén vokal

Bahasa Sunda punya tujuh vokal. Di awal kata, vokal ditulis dengan aksara swara (ᮃ ᮄ ᮅ ᮆ ᮇ ᮈ ᮉ). Setelah konsonan, vokal ditulis dengan rarangkén yang menempel pada huruf ngalagena:

BunyiRarangkénContoh suku kataAksara
a(bawaan, tanpa tanda)kaᮊ
ipanghulukiᮊᮤ
upanyukukuᮊᮥ
é (taling)panéléngkéᮊᮦ
opanolongkoᮊᮧ
e (pepet)pamepetkeᮊᮨ
eupaneuleungkeuᮊᮩ

Dua vokal yang berurutan tanpa konsonan di antaranya ditulis sebagai suku kata terpisah: cai menjadi ᮎᮄ dan lauk menjadi ᮜᮅᮊ᮪. Kata yang diawali vokal memakai aksara swara: eunteung menjadi ᮉᮔ᮪ᮒᮩᮀ, énjing menjadi ᮆᮔ᮪ᮏᮤᮀ.

3. Konsonan di akhir suku kata

Huruf ngalagena selalu berbunyi dengan vokal /a/. Untuk mematikan vokal itu, mesin memakai pamaéh (᮪). Tiga konsonan akhir punya tanda khusus dan tidak memakai pamaéh:

Konsonan akhir lain memakai pamaéh: kan menjadi ᮊᮔ᮪, garut menjadi ᮌᮛᮥᮒ᮪, leumpang menjadi ᮜᮩᮙ᮪ᮕᮀ. Lupa memasang pamaéh adalah kesalahan papan nama yang paling sering, misalnya "Jalan" yang terbaca "Jala-na".

4. Gugus konsonan: pamingkal, panyakra, panyiku

Jika huruf y, r, atau l langsung mengikuti konsonan dalam satu suku kata, mesin tidak menulisnya sebagai huruf terpisah, melainkan sebagai rarangkén sisip:

Mesin memeriksa batas suku kata lebih dulu. Pada bandrek, huruf n menutup suku kata pertama dan dr membuka suku kata kedua, sehingga hasilnya ᮘᮔ᮪ᮓᮢᮨᮊ᮪.

5. Nama berejaan lama

Banyak nama orang dan jalan masih memakai ejaan sebelum 1972. Karena aksara Sunda mengikuti bunyi, mesin menulis nama-nama ini sesuai pengucapannya. Aturan ini hanya aktif jika sebuah kata memuat salah satu penanda ejaan lama (oe, dj, tj, sj):

Ejaan lamaDibacaContohAksara
oeuSoekarnoᮞᮥᮊᮁᮔᮧ
djjDjuandaᮏᮥᮃᮔ᮪ᮓ
tjcTjitjalengkaᮎᮤᮎᮜᮨᮀᮊ
sjsySjahrirᮯᮂᮛᮤᮁ
j (bersama penanda lain)ySoerjadiᮞᮥᮁᮚᮓᮤ

Kata berejaan modern tidak tersentuh aturan ini: panjang tetap ᮕᮔ᮪ᮏᮀ. Kesalahan "Soékano" pada sebagian papan jalan terjadi justru karena "oe" ditulis sebagai dua huruf.

6. Nama asing dan huruf ganda

7. Angka

Angka Latin diubah ke angka Sunda satu per satu: 2026 menjadi ᮲᮰᮲᮶. Menurut konvensi, rangkaian angka sebaiknya diapit tanda pipa, |᮲᮰᮲᮶|, agar tidak tertukar dengan huruf. Mesin belum menambahkan tanda pipa otomatis, jadi tambahkan sendiri bila perlu. Penjelasan lengkap ada di panduan aksara Sunda lengkap.

8. Batasan yang perlu Anda periksa sendiri

Kaidah mesin ini sedang kami mintakan pemeriksaan kepada ahli aksara Sunda. Untuk papan nama, prasasti, atau tato, mintalah ahli memeriksa hasil akhirnya sebelum dicetak.

9. Menemukan kesalahan?

Jika Anda menemukan kata yang ditulis keliru, kirim email ke [email protected] dengan kata yang keliru dan bentuk yang menurut Anda benar. Setiap koreksi yang kami terapkan akan dicatat di halaman ini.

Coba aturannya langsung

Ketik nama atau kalimat, lalu cocokkan hasilnya dengan tabel di atas.